Monday, November 20, 2017

Ngeblog dan Sebuah Peperangan

Ngeblog dan Sebuah Peperangan
Sumber pic Pixabay terus di edit jadi gini

Minggu kemarin saya tidak ada kegiatan seperti biasanya, hanya sekedar beres-beres kamar yang berantakan dan sedikit menata ulang kamar supaya tidak membosankan. Setelah selesai beres-beres dan merapihkan kamar, saya mengambil laptop dan melanjutkan nonton film yang sudah saya siapkan untuk mengisi waktu dihari minggu.

Film ini bergenre action perang, memang karena saya suka genre yang seperti itu. Saya mendapatkan film ini dari seorang teman di tempat kerja. Katanya si bagus, makanya saya penasaran untuk menontonnya.

Judul filmnya Dunkirk, awal nonton saya tidak begitu mengerti jalan ceritanya namun setelah pertengahan dan akhir mulai paham alurnya.

Film ini mengambil setting pada massa perang dunia II, berkisah tentang penyelamatan 330 ribu tentara sekutu yang berasal dari empat negara berbeda yaitu Perancis, Inggris, Belanda dan Belgia yang terdampar di kawasan pantai Dunkirk, Perancis.

Setelah menonton film ini saya sadar bahwa perang itu memang tidak akan menghasilkan apa-apa kecuali kehancuran dan berbagai banyak masalah baru.

Mungkin untuk saat ini kita tidak merasakan perang seperti itu, namun lebih ke perang yang lain seperti melawan Hoax, ego diri sendiri dan masih banyak lagi salah satunya ngeblog.

Ngeblog sendiri seperti perang dengan berbagai musuh yang menghalangi. Musuh-musuh ini siap untuk menghadang kita ketika lengah.

Baca Juga : Mencoba Menikmati Tulisan Sendiri


Rasa Malas


Ini adalah salah satu musuh sejuta umat dalam berbagai hal, bukan hanya ngeblog saja. Rasa malas memang selalu menghantui kita, yang tadinya sudah ada rencana untuk mengerjakan sesuatu namun ketika malas melanda akhirnya tertunda.

Ide sudah ada, kerangka tulisan sudah siap dan tinggal eksekusi untuk lanjut dibuat sebuah tulisan. Namun lagi-lagi rasa malas menghadang didepan dan berujung tiduran lagi.

Senjata untuk melawannya hanya satu dengan cara paksakan diri, kalau menuruti rasa malas kita akan terhipnotis untuk terus mager-mageran.


Kuota Internet dan Jaringan Internet


Musuh yang selanjutnya tidak kalah kuat dari rasa malas adalah saat kuota internet sudah mulai tipis dan pada saat yang bersamaan ditanggal tua juga. Ketika kuota sudah ada sekarang giliran jaringan yang mulai lemot. Tidak tau karena gangguan atau masalah lain.

Tapi ini sering sekali saya rasakan tiba-tiba jaringan internet lemot. Untuk masuk ke blogger saja menunggu loadingnya bisa bolak-balik kewarung beli indomie dan tetap saja masih muter-muter.

Senjata paling ampuh mungkin harus ganti kartu atau cari internet gratis diluar.Untuk yang punya uang lebih mungkin bisa pasang jaringan internet sendiri dirumah.


Kebanyakan Ide Tapi Bingung Yang Mana Harus Didahulukan


Terkadang ide itu numpuk seperti kantong kresek dimana-mana. Namun bukan berarti ide muncul langsung bisa posting begitu saja. Kebanyakan ide malah bikin bingung sendiri, mana yang harus di posting dan mana yang harus ditulis.

Ujung-ujungnya waktu dihabiskan untuk memikirkan mana yang harus didahulukan. Ini sering juga terjadi terhadap penulis sendiri, ide yang muncul banyak bahkan dikepala ini numpuk ide untuk dituangkan.

Tapi kembali lagi mana yang harus saya tulis lebih dulu itu yang membuat bingung dan pada akhirnya tidak satupun dituangkan dalam tulisan.

Senjata paling ampuh untuk melawan musuh yang satu ini adalah, ketika ada ide pertama muncul  langsung cepat ambil keputusan dan tulis saja.


Waktu Luang Untuk Blogging


Ini adalah musuh para blogger part time, ngeblog hanya jika ada waktu luang saja. Yang seharian penuh disibukkan dengan kegiatan utama yaitu bekerja.

Setelah pulang kerja terkadang sudah larut, badan sudah terasa letih dan ngantuk. Untuk keluarga saja sulit membagi waktunya apa lagi untuk menulis.

Ini mungkin salah satu musuh yang memang sulit untuk ditaklukan, namun bukan berarti tidak bisa. Sejata paling ampuh adalah menulis sedikit demi sedikit saat ada waktu kosong saja.

Setidaknya pasti ada waktu luang atau kosong, manfaatkan itu sebisa mungkin untuk sekedar menulis. Tidak harus selesai hari itu juga, bisa saja hari ini beberapa paragraf. Besok saat ada waktu luang di lanjutkan lagi.

Ragu Dengan Tulisan Yang Telah Dibuat


Sudah melewati rasa malas, jaringan buruk, ide yang kebanyakan, dan waktu luang. Sekarang giliran musuh yang memang tidak kalah kuat juga. Setelah melewati semuanya tulisan pun telah selesai dibuat namun masih ada keraguan dalam hati.

Apakah harus diposting atau tidak, apa postingan saya akan diterima oleh pembaca atau tidak. Keraguan yang kadang hanya menghabiskan waktu dan pada akhirnya tulisan tidak diposting dan menjadi draf bertahun tahun.

Senjata untuk mengalahkan musuh yang satu ini adalah kepercayaan diri. Tetep Pede saja dengan postingan kita, meskipun hasilnya memang belum maksimal.

Kritik dari para pembaca dan blogger lain bisa dijadikan bahan untuk kita introspeksi diri dan mulai memperbaiki tulisan untuk selanjutnya, bukan malah menjadi beban untuk kita.

...

Menjadi blogger itu memang susah-susah mudah. Mudah membuatnya tapi sulit untuk melanjutkannya. Yang sulit adalah menjadi konsisten untuk terus ngeblog karena namanya rasa jenuh dan bosan selalu menghampiri.

Jadi kapanpun harus siap berperang melawan musuh-musuh yang memang selalu siap menghadang dan kita juga harus mempersiapkan senjata untuk melawannya. Perlu perjuangan untuk melawan musuh-musuh yang siap menghadang kapan saja.

Mungkin ada yang ingin menambahkan musuh ngeblog lainnya. Silahkan tinggalkan komentar dibawah. Terima kasih.

Friday, November 17, 2017

Memberi dan Sebuah Kebahagiaan

Memberi dan Sebuah Kebahagiaan
Sumber pic Om Gugel

Malam tadi saya bertemu dengan teman lama sekaligus salah satu senior saya sewaktu kerja dulu. Sudah hampir 3 tahun kita tidak pernah bertemu, sejak saya memutuskan untuk pindah ketempat kerja yang sekarang ini. Kesibukan juga yang pastinya menjadi penghalang kami untuk saling sapa di dunia nyata.

Pertemuan malam ini pun tidak dijanjikan, ya mungkin Allah sudah mengaturnya untuk kami tetap menjalin silaturrahmi.

Didalam kereta perjalanan pulang kami bertemu. Beliau yang menyapa saya terlebih dahulu. “Mas Adi ya?”, sembari menepuk pundak saya. “eh pak Dirlan”, jawab saya. “Apa kabar mas, kerja dimana sekarang?” tanya beliau.

...
Dari sini percakapan kamipun berlanjut, meski dalam keadaan berdiri didalam kereta. Sampai tibanya kereta berhenti distasiun, saya dan pak dirlan segera bergegas untuk turun. Sebenarnya kami memang satu arah dan berhenti di stasiun yang sama tapi tidak pernah saling bertemu dan baru kali ini. Semua memang sudah di atur yang di atas.

Setelah dari stasiun kami berpisah dengan menaiki angkot dengan jurusan yang beda. Saya juga memang hari ini tidak membawa motor, lagi kepengen naik angkot saja.

Saya melihat kearah pak dirlan dari dalam angkot, beliau tidak langsung menaiki angkotnya. Beliau berhenti sejenak, tangan kanannya merogoh kekantong celananya dan memeberikan sesutu kepada orang yang didepannya.

Saya tidak tau apa yang beliau berikan dan siapa orang yang didepannya itu. Yang saya lihat dari kejauhan hanya sesosok ibu-ibu bahkan sudah bisa dibilang nenek-nenek.

Saya hanya tersenyum sembari kembali teringat ketika pertama kali bertemu dengan pak dirlan ditempat kerja. Waktu itu saya karyawan baru sekitar tiga hari disana. Saya dipertemukan dengan pak dirlan karena ditempatkan dalam satu tim kerja, beliau sebagai pemimpin.

Ada satu kejadian yang membuat saya selalu ingat, sewaktu kita berdua makan siang diluar. Hari itu saya ditraktir sama beliau hehe. Perbedaan usia kami sangat jauh yaitu 22 tahun, sudah seperti bapak saya sendiri.

Makan di restoran sejuta umat (warteg), sewaktu sedang menikmati makan. Ada datang seorang ibu dan dua anak ingin membeli nasi. Tapi uangnya kurang dan sipemilik tidak memberikannya.

Pak Dirlanpun seketika berdiri “Mbak kasih aja ibu ini mau beli apa, biar saya nanti yang bayarnya” uacap pak Dirlan. Tidak berhenti sampai disitu, beliau juga memberikan uang kepada si ibu tadi “nih bu, ada rezeki sedikit buat ibu sama anaknya”.

Saya hanya menatap bengong dan berfikir masih ada orang seperti ini di zaman sekarang. Apa lagi ini di Ibu kota yang katanya kejam.

Dalam perjalanan pulang dari tempat makan, saya menyakan perihal tadi. “maaf pak, tadi kenapa bapak baik banget sama itu ibu-ibu?” tanya saya.

Beliaupun sedikit menghela nafas sembari tersenyum dan mulai menjawab pertanyaan konyol saya tadi 

    “hmm gina ya mas adi, hidup itu sementara. Apa lagi buat saya yang sudah usia berkepala empat. Apa yang ingin saya tuju lagi sudah tidak ada, sekarang saya hanya berfokus dengan anak dan istri.


    Selain itu saya ingin sisa waktu saya dapat berguna untuk sesama, seperti yang mas adi lihat tadi. Berbagi kesesama itu tidak akan membuat kita jatuh miskin, yang ada kita bisa merasakan kebahagiaan. Selagi gusti Allah memberikan kesempatan kita untuk berbuat baik, pergunakanlah.”,  Sembari tersenyum dan menpuk pundak saya lalau beliau melanjutkan perkataanya


    “Mas adi masih muda, jalan hidupnya masih panjang. Masih punya banyak kesempatan. Mungkin suatu saat nanti mas adi bakal mengerti dengan ucapan saya tadi, paham gak?”. Ucap beliau sambil tertawa kecil.

Saya hanya mengangguk dan bengong saja, tapi memang ada benarnya apa yang dikatakan pak Dirlan.

Setelah dari situ saya selalu mencoba menerapkan apa yang pak Dirlan ajarkan kepada saya tentang makna berbagi. Ternyata benar adanya banyak hal yang saya dapatkan dan perubahan dalam hidup saya.

Sebuah Kebahaagiaan dari Hal Sederhana


Sekecil apapun yang kita beri kepada orang yang membutuhkan tentu akan bermanfaat untuk mereka. Seperti kata ungkapan “Tangan diatas lebih baik dari pada tangan di bawah”, karena memberi lebih baik dari pada menerima, dengan memberi kita bisa lebih bersyukur.

Didalam Islam pun kita diajarkan untuk berbagi dan memberi.

Tentu selalu ada pertanyaan, apa sih yang kita dapat dari memberi/berbagi?, memang kita mungkin tidak akan mendapatkan apa-apa. Apa lagi berharap sebuah imbalan segepok emas turun dari langit, itu hal yang tidak mungkin kan.
Lalu apa?,

Sebuah kebahagiaan, ketika kita memberi dan berbagi kesesama itu ada rasa bahagia di hati. Apa lagi orang yang kita beri itu terlhat bahagia. Double combo rasanya kebahagiaan yang kita rasakan itu.

Mampu Bersyukur Dengan Apa yang Kita Miliki


Dengan menyisihkan sedikit uang disaku kita untuk sekedar berbagi kesesama yang memang membutuhkan.

Dengan ini kita bisa lebih bersyukur dengan apa yang kita miliki sekarang, sesulit apapun kita hari ini diluar sana masih banyak orang yang lebih sulit dari pada kita.

Bersyukur karena kita masih bisa berbagi, walaupun terkadang kita masih pas pasan.

Rasa Puas yang Didapatkan


Ada rasa kepuasan tersendiri saat kita memberi, rasanya hati ini lebih lega dan tenang.  Masalah yang terjadi seakan sejenak hilang dari kepala.

Apa lagi kita ikhlas dengan segenap hati untuk berbagi, selain kebahagiaan yang kita dapatkan ada rasa ketenangan dalam diri ini. Ketenangan dalam menjalani hidup meski begitu banyak problematika yang ada.

Meningkatkan Mood Kita


Saya tidak tau apa ini juga berpengaruh dengan orang lain, tapi saya merasakan saat kita berbagi dengan sesama itu. Rasa mood kita itu sperti meningkat beberapa persen, hidup rasanya kembali bergairah lagi.

Yang tadinya mungkin sudah merasa lelah dengan rutinitas yang membosankan dan kehidupan yang monoton. Berputar-putar seperti itu setiap harinya, namun ketika kita mampu berbagi dengan sesama. Kita akan merasakan lagi semangat untuk menjalani kehidupan seolah selalu ada harapan baru didepan.

...
Cerita diatas memang banar adanya saya alami, saya pun awalnya tidak pernah percaya masih ada orang baik seperti beliau. Di tengah-tengah ibu kota yang penuh sesak dengan orang-orang yang penuh dengan ambisi besar, rasa haus dan rakus akan kekuasaan.

Tapi dibalik kejamnya Ibu Kota, masih tersimpan orang-orang yang hatinya baik dan penuh rasa kemanusiaan.

Berbagi tidak selamanya harus dengan uang atau harta yang kita milikki. Berbagi juga tidak harus dengan orang lain atau siapapun itu.

Berbagi kebahagiaan dengan para sahabat dan keluarga terdekat pun akan membuat kita lebih tenang dan bahagia tentunya.

Sebenarnya banyak yang ingin saya ceritakan, namun sepertinya akan panjang dan mungkin yang baca juga akan bosan melihat tulisan. Jadi saya hanya mengambil point pentingnya saja.

Berbuat baik selagi masih diberi kesempatan, karena hari esok kita tidak pernah tau.

Lain kali mungkin saya harus foto bareng dengan beliau, untuk sebuah kenang-kengangan.

Wednesday, November 15, 2017

Yang Selalu Membuat Rindu Ingin Pulang

Yang Selalu Membuat Rindu Ingin Pulang
Sumber pic Om Gugel

Kita tidak pernah tau akan dilahirkan dimana, dari keluarga dengan latar belakang seperti apa. Begitupun suatu saat kita akan hidup dan tinggal dimana. Kita mungkin punya rencana untuk tinggal disuatu tempat atau berdiam diri dikampung halaman.

Sebagai manusia kita kadang hanya bisa berencana, namun kembali lagi Tuhan yang menentukan kemana kita berdiri.

Seperti saya hari ini, tidak pernah terpikirkan untuk tinggal dan kerja jauh dari kampung halaman. Namun karena tuntutan kerja yang mengharuskan saya beberapa kali pindah dari satu tempat ketempat lain, terakhir kali saya bisa menikmati kerja dekat dengan orang tua sekitar satu tahun yang lalu.

Saya mengambil cuti selama satu tahun setengah dan bekerja jarak jauh, karena hanya ingin menikmati waktu bersama orang tua dan kampung halaman.

Tapi selanjutnya saya dipindahkan lagi kejakarta, untuk menempati kantor baru. Sebenarnya memang banyak kendala saat kerja jarak jauh, apa lagi dikampung saya listrik kalau padam sudah tidak bisa dikompromi, pekerjaan yang seharusnya dikirim akhirnya tersendat.

Dan ada pekerjaan yang memang mengharuskan saya ada ditempat, alhasil kembali lagi jauh dari kampung halaman dan orang tua.

Saat jauh dari kampung halaman ada banyak hal yang mungkin membuat kita rindu ingin pulang. Meski bicara betah hidup dikota atau negara orang, tinggal ditempat yang nyaman, bertemu orang-orang baru yang begitu mementingkan solidaritas. Namun ada ungakapan yang berkata "Rumahku istanaku".

Ayah dan Ibu


Salah satu alasan paling kuat yang membuat kita rindu ingin pulang adalah kedua orang tua. Ayah dan Ibu yang telah membesarkan kita, merawat dengan penuh kasih sayang inilah yang selalu kita rindukan.

Meskipun sekarang zaman semakin modern dan canggih, tanpa bertemu tapi bisa bertatap muka via video call. Karena tidak secara langsung itu rasanya masih ada yang kurang saja. Tapi setidaknya kita masih bisa melepas rindu yang sudah berkarat ini.

Masakan Ibu


Kalau yang ini menurut pribadi penulis sendiri, meskipun disekitar kita penuh dengan makanan yang super mewah dan enak. Tapi masakan Ibu itu selalu menjadi primadona, rasa masakannya itu seakan permanen menempel di lidah.

Mungkin karena sejak kecil kita memang selalu terbiasa dengan masakannya. Apapun alasannya masakan Ibu selalu membuat saya rindu ingin pulang.

Suasana Rumah


Suasana kehangatan didalam rumah bisa berkumpul bareng Orang tua, saudara, dan keluarga lainnya adalah momen dimana kebahagiaan tidak bisa diukur dengan segepok uang.

Mungkin dirantauan kita bisa berkumpul dengan para sahabat dan keluarga baru, namun rasanya itu memang berbeda.

"Rumahku adalah istanaku" ungakapan itu memang cocok, meski rumah kita tidak sebagus hotel, apartmen atau kostan yang mewah. Tapi rasa nyamannya itu tidak akan pernah tergantikan.

Kasur kapuk yang biasa saja, ditemani guling yang sedikit padat sudah membut tidur terasa nyenyak dan mimpi indah.

Sahabat Kecil/Lama


Di kampung halaman kita pasti punya yang satu ini, teman bermain sejak kecil. Bahkan bukan seperti teman lagi. Karena kedekatannya sudah seperti saudara sendiri, yang setiap hari bermain bersama, terkadang sampai makan dirumahnya.

Ini juga yang membuat kita rindu, di rantauan mungkin kita sudah memiliki sahabat baru. Tapi beda dengan sahabat kecil kita, yang memang sudah paham dan mengerti luar dalam dari diri kita.

Saat bersama mereka kita akan benar-benar menjadi diri sendiri tanpa kebohongan, yang cool mungkin akan tertindas, yang berlagak wibawa bisa jadi jatuh. Saya benar-benar rindu suasana itu.


Kuliner


Setiap daerah tempat kelahiran kita pasti memiliki kuliner khas tersendiri. Salah satunya pasti menjadi favorite kita.

Meskipun didaerah tempat kita tinggal sekarang atau rantauan juga menjual makanan itu. Tapi rasanya pasti beda, selain suasananya juga berbeda. Kalau untuk melepas rindu tidak ada masalahnya.

Kebetulan saya lahir dipalembang, sebenarnya tidak kebetulan juga semua sudah di atur sama Allah. Ada makanan khas yang menjadi favorite saya yaitu Pempek panggang dan model serta kemplang panggang, bukan model yang di majalah atau tipi tipi ya, ini murni makanan.

Dijakarta saya kesulitan mencari kedua makanan ini, kalau di cari dengan om gugel ada namun terlalu jauh. Kalau model sendiri belum pernah nemuin di sini. Untuk Kemplang banyak tapi benar benar beda jauh dari harapan saya. Soal rasa dan teksturnya.
Alhasil saya terkadang menitip teman atau kerabat yang ingin berkunjung ke jakarta. Minta tolong dibawain, ada juga teman yang ingin pulang kampung sewaktu balik lagi kesini bisa minta bawain juga.

Yang Selalu Membuat Rindu Ingin Pulang
Dari kiri : Kemplang panggang - Model - Pempek panggang


Suasana Kampung Halaman dan Lingkungan


Suasana di suatu tempat itu berbeda-beda, dari adat, bahasa, dan lingkungan yang terjalin. Suasana seperti itu tidak akan kita dapatkan saat tinggal dikota orang. Ada kalau kita bertemu dengan teman satu daerah dengan kita. Berasa suasana di rumah memang, tapi kan tetap saja terasa kurang.

Apa lagi kita punya kampung halaman yang masih terasa asri, tidak ada polusi udara dan jauh dari hingar bingar kendaraan, kemacetan, demo, dan segala macam bentuk permasalahannya. Di kampung halaman biasanya terasa lebih damai dan tenang. 


Itulah beberapa hal yang membuat kita selalu rindu ingin pulang, masih banyak lagi yang mungkin kita rindukan dari kampung halaman.

Hidup memang pilihan, tentu kita bisa memilih untuk tetap bertahan dikota orang atau kembali ke kampung halaman sendiri.

Selagi masih ada orang tua di kampung, pulang adalah hal wajib. Mereka tidak akan menanyakan uang ada harta yang kamu bawa. Melihatmu datang dengan sehat sudah membuat mereka bahagia.

Monday, November 13, 2017

Ketika Jomblo Menjadi Simbol Kebebasan

Ketika Jomblo Menjadi Simbol Kebebasan
Sumber pic Pexels.com

Kembali lagi dengan topik niche blog ini, yang beberapa minggu ini sedikit keluar dari jalur yang sebenarnya. Semua ulasan memang curhatan dan keresahan dari pengalaman pribadi si penulis sendiri. Sayang juga saat ada ide tapi tidak ditulis kan hihi :D.

Malam minggu kemarin dapet curhatan dari seorang teman kost yang merasa hidupnya tidak bebas setelah menjalin hubungan dengan pacar barunya. Setiap malam minggu wajib teleponan, padahal mereka sering bertemu. Kalau LDR mungkin bisa dimaklumi, ini mereka sering bertemu karena satu tempat kerja.

Teman saya merasa risih karena tidak bebas saat ingin kumpul bersama teman-teman yang lain tiba-tiba pacarnya telpon. Kalau tidak diangkat pakai acara ngambek yang berkepanjangan.

Tapi menurut saya wajar karena hubungan mereka masih baru beberapa bulan. Jadi masih hangat-hangatnya, mungkin tidak ada kabar berasa kehilangan selamanya. Sayangnya teman saya ini merasa terganggu karena kebebasannya hilang dan terkekang. “Enakan jomblo ya, bebas mau kemana aja, mau ngapain aja, Cuma malem minggu aja yang enggak enaknya”. Ucap temanku.

Sebenarnya bukan hanya satu ini saja teman yang ngomong ketika sudah punya pacar tidak ada lagi kebebasan. Semua waktunya hanya untuk si doi saja.

Dari kisah teman-teman saya yang mengeluh tentang pacaran membuat saya perihatin dan merasa kasihan. Tapi yang seharusnya dikasihani itu saya, mereka punya pacar dan malam minggu mereka dihabiskan dengan pacar mereka.

Baca juga : Jomblo Juga Ciptaan Tuhan

 Sedangkan saya duduk manis depan laptop bacain quote-qoute motivasi untuk menguatkan diri dan meyakinkan diri bahwa jomblo itu baik.

Saya juga pernah ngalamin namanya pacaran, meski tidak lama karena dianya sudah sadar dan kembali kejalan yang benar dengan dapet cowok yang lebih kaya (wajarkan).

Saya merasakan waktu tersita hanya untuk fokus ke doi saja, apa lagi kalau sudah minta anter kemana-mana. Padahal ada janji bareng teman, di telpon minta jemput. Sebentar lagi telpon minta anterin. Kalau dipikir sepertinya bukan pacaran tapi menjalin mitra ojek online, tapi belum pakai aplikasi masih pakai pesan singkat dan telpon. Mungkin ini salah satu yang mendasari terbentuknya ojek online.

Tapi setelah jomblo saya merasakan kebebasan, seperti terbebas dari ruang yang pengap menuju ruang bebas dengan udara segar. Akhinrya saya bisa menikmati hidup dengan normal kembali.

Tapi tidak semua orang pacaran seperti itu, mungkin memang saya dan orang-orang dilingkungan saya saja yang seperti ini.


Dalam Pergaulan


Ketika memiliki pacar, ruang lingkup pertemanan semakin mengecil karena waktu yang kita habiskan hanya untuk berfokus ke doi saja. Apa lagi punya pacar yang terlalu over protective, dikit-dikit nanya lagi dimana, dengan siapa?. Kalau di jawab jujur tidak percaya, harus ada bukti foto.

Berbeda dengan ketika masih menjomblo, kita bebas bergaul dengan siapa saja tanpa batasan. Lingkaran pertemananpun semakin luas karena tidak adanya cctv aktive yang selalu mengawasi.
Kualitas hubungan pertemananpun terjalin dengan baik, karena kita hidup masih butuh teman kan.


Suara Telpon masuk


Menjadi jomblo terasa lebih tenang karena hari-harinya terbebas dari dering telpon. Kalaupun ada hanya operator yang iseng atau penipu yang lagi cari korban.

Ketika sedang sibuk dengan deadline kerja, ada dering telpon itu kadang membuyarkan pikiran. Yang tadinya sedang fokus tiba-tiba hilang.

Itu kenapa ketika menjadi jomblo saya lebih produktif, apa lagi saya yang setiap harinya selalu dikejar deadline dari klien. Makanya saya begitu menikmati menjadi jomblo -_-.


Waktu Untuk Sendiri


Ada kalanya kita butuh waktu sendiri, mungkin hanya sekedar introspeksi diri atau menenangkan pikiran. Rutinitas seharian membuat pikiran kita lelah, apa lagi dewasa ini kesibukkan manusia semakin tinggi.

Sesekali kita butuh ruang untuk sendiri, tanpa adanya gangguan dari siapapun, bahkan suara dering telpon sekalipun. Kamu bisa melakukan hal ini dengan bebas dan kapan saja ketika jomblo, paling yang mengirim pesan kekamu hanya ibu/bapak kost yang isinya “Kapan bayar kostnya, ini sudah lewat 3 hari”.

Tapi semua yang diatas itu tidak mutlak, karena tidak semua orang yang pacaran seperti itu. Ada yang hubungannya baik-baik karena saling mengerti satu sama lain, hubungan mereka dijalani karena kedewasaan berfikir masing-masing.

Jadi jangan anggap semua yang pacaran itu terkekang, ini hanya pengalaman dan perspektif dari saya pribadi yang terjadi disekitar saya.

Tapi untuk jomblo, kebebasan itu mutlak. Karena siapa yang akan melarang kamu kecuali orang tua kamu sendiri. Ketika kumpul bareng teman tidak akan ada yang mengganggu kamu kecuali klien kamu minta revisi secepatnya.

Jomblo dan kebebasan memang sulit dipisahkan, saya merasakan sendiri betapa bebasnya menajdi jomblo yang pada akhirnya kebablasan menjomblonya. Ketika teman-teman saya berlomba-lomba berkembang biak untuk regenerasi keturunan bersama pasangan sah mereka. Sedangkan saya masih asik dengan kesendirian.

Kebebasa itu pilihan, tidak peduli kamu jomblo atau bukan jomblo.

Sunday, November 12, 2017

Menerapkan Disiplin Menulis

Menerapkan Disiplin Menulis
Sumber Pic Pixabay.com and Mysatnite

Kegiatan menulis kini mulai saya gemari kembali, setelah hampir lebih dari empat tahun vakum dari dunia perbloggeran. Akhirnya berkat rekomendasi dari

Saturday, November 11, 2017

Jomblo Juga Ciptaan Tuhan

Jomblo Juga Ciptaan Tuhan
Sumber pic Pixabay.com

Berbicara lagi tentang jomblo yang memang tidak pernah habis untuk dibahas. Jomblo memang menjadi

Friday, November 10, 2017

Pahlawan Tanpa Kostum - Hari Pahlawan 10 November

Pahlawan Tanpa Kostum - Hari Pahlawan 10 November 2017
Original Pic From Mysatnite


Apa yang pertama kali kamu pikirkan ketika mendengar kata Pahlawan?
Untuk sebagian orang atau anak kecil akan membayangkan tokoh superhero seperti spiderman, batman, iron man, kapten amerika bahkan mahkuk seram seperti hulk. Saya yang sejak kecil ingin sekali menjadi seorang pahlwan seperti spiderman, mampu mengeluarkan jaring dari tanganya, menempel di tembok tanpa terjatuh.

Pahlawan dalam komik dan serial televisi atau film di bioskop di identikan dengan berbagai kostum dan perlengkapan pendukung lainnya agar terlihat gagah dan keren. Mampu menyelamatkan bumi dari kehancuran dengan berbagai kekuatan super yang mereka milikki.

Tapi sayang itu semua hanyalah cerita fiksi belaka dan tidak terbukti ada kebenarannya. Apakah menjadi seorang pahlawan harus memiliki kostum yang unik dan kekuatan super?. Pertannyaan seperti itu mungkin bisa kalian jawab sendiri.

Pahlawan untuk sekitarmu


Kalau kamu masih berpikir menjadi seorang pahlawan itu harus memiliki kekuatan super, wajah yang tampan, senjata yang keren, mungkin mulai sekarang berhentilah bermimpi untuk menjadi pahlawan.

Menjadi pahlawan itu tidak harus punya segalanya, yang kamu butuhkan hanyalah rasa empati yang terpatri dalam dirimu. Rasa ingin menolong sesama, membantu orang-orang yang membutuhkanmu.

Mulailah dari hal-hal kecil seperti membantu menyelesaikan pekerjaan teman dikantor. Dengan catatan tidak mengganggu pekerjaan kamu sendiri. Sedikit menyisihkan uang sakumu untuk para kaum duafa.

Mematuhi aturan yang telah ditetapkan, misal tidak menerobos lampu merah, tidak membuang sampah sembarangan, ataupun  patuh untuk membayar pajak. Belum bisa memberikan yang terbaik setidaknya kamu tidak melakukan hal yang tidak baik.

Masih banyak lagi yang bisa kamu lakukan untuk menjadi seorang pahlawan bagi orang disekitarmu.


Berkarya Untuk Menularkan Hal Positif


Zaman sudah semakin maju, peradaban semakin jauh meninggalkan masa lalu. Dulu mungkin untuk menjadi seorang pahlawan kita harus memegang senjata dan tekadkan keberanian melawan bangsa penjajah.

Tapi hari ini sudah berbeda, roda zaman sudah berputar. Tidak ada guna mengangkat senjata, apa lagi harus bertumpah darah.

Buatlah sebuah karya yang mampu mempengaruhi hal positif untuk penerus bangsa. Tidak harus sebuah masterpiece yang penuh dengan penghargaan dan banyaknya pujian.

Mulailah dari hal-hal kecil yang memang mampu kamu lakukan. Menjadi penulis blogger misalnya, tulislah informasi yang bermanfaat dan akurat tanpa hoax itu sudah cukup untuk  kamu menajadi seorang pahlawan. Membagikan ilmu lewat sebuah tulisan mungkin bisa bermanfat dan berdampak baik untuk para pembacanya. 

Apa lagi dizaman sekarang sudah semakin banyak media untuk menyalurkan karyamu yang sesuai dengan minat kamu sendiri tanpa harus terbebani. 

Sekecil apapun manfaat yang kamu berikan akan berdampak untuk masa depan negeri ini. Jadi mau menunggu apa lagi, jadilah pahlawan kecil yang mampu bermanfaat untuk orang lain.

Menghargai perbedaan


Kita ini hidup dinegeri yang setiap pulaunya memiliki keberagaman, suku, ras, agama, budaya, adat dan masih banyak lagi. Dulu pahlawan negeri ini mampu bersatu untuk mengusir para penjajah dari bumi pertiwi dan terbentuklah negara indonesia.

Hari ini kita yang diwariskan dengan begitu banyaknya keberagaman, setidaknya kita sadar tidak menjadi jemawa saat menjadi mayoritas dan tidak pula minder saat minoritas.

Hilangkan perbedaan antara kita, bersatu untuk satu nama yaitu Indonesia. Tidak mungkin sekarang kita mengangkat bilah bambu karena tidak adanya penjajah. Tapi angkatlah tangan untuk sebuah persatuan.

Kalaupun kamu belum mampu menjadi pemersatu setidaknya jangalah menjadi pemecah persatuan.


Pahlawan untuk keluarga


Untuk yang sudah berkeluarga atau yang masih jomblo sekalipun, tidak perlu jauh-jauh ke amerika untuk ikut menjadi pasukan avengers.

Cobalah untuk menjadi pahlawan di lingkngan keluargamu sendiri, untuk yang sudah berkeluarga mungkin bisa memberikan perhatian kepada anak dan istri dengan berbagai hal-hal kecil. Karena saya belum berkeluarga jadi tidak begitu mengerti.

Untuk yang jomblo, setidaknya kamu memiliki keluarga jugakan. Entah itu orang tua, saudara atau bahkan teman dekat juga tidak ada masalah.

Buatlah lingkungan terdekatmu senyaman mungkin, berikan apa yang bisa kamu berikan, bantu apa yang bisa kamu bantu. Jadilah sosok pahlawan bagi mereka, sosok yang mampu memberikan contoh yang baik, pengaruh yang positif dan kebahagiaan untuk mereka.


Hari Pahlawan


Surabaya 10 November 1945, genap sudah 72 tahun peristiwa besar pertama yang terjadi setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Menjadi tonggak sejarah besar bagi bangsa Indonesia, perlawanan terhadap pasukan Britania Raya. Pertempuran besar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia yang menjadi simbol nasional atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme.

Kini sudah 72 tahun berlalu, banyak problematika yang masih terjadi negeri ini. Perjuangan saat ini bukan lagi melawan penjajah, tapi melawan ego diri sendiri dan kepentingan tertinggi.

Korupsi, berita Hoax, Rasis, adalah bagian dari penjajah yang paling mengerikan untuk saat ini.

Kesimpulan

Untuk menjadi seorang pahlawan tidak harus melakukan hal yang diluar kemampuanmu. Lakukan apa yang bisa kamu lakukan. Yang terpenting adalah dampak positif yang kamu berikan.

Menjadi pahlawan tidak perlu kostum yang nyentrik agar menjadi pusat perhatian, tapi jadi pribadi yang baik yang mampu menggiring opini menuju arah yang positif.

Tidak perlu senjata ataupun bilah bambu, yang kamu butuhkan hanya semangat untuk berkarya, Berkarya untuk membangun bangsa ini, berlomba untuk menjadi yang terbaik karena bangsa ini membutuhkan kamu.

Saya sendiri belum bisa memberikan apapun terhadap negeri ini, yang hanya bisa saya lakukan adalah menjadi warga negara yang baik dan patuh terhadap peraturan.

Saya akan melupakan menjadi sosok Spiderman yang selalu jadi impian saya sejak kecil, ada banyak pahlawan di negeri ini yang jauh lebih hebat, keren dan bisa jadi panutan, tentunya mereka nyata pernah hidup dan tercatat dalam sejarah meskipun tanpa kostum yang unik.

Selamat hari pahlawan, semoga kita selalu saling menjaga persatuan dan kesatuan antar sesama. Saling menjaga kerukunan antar suku, agama, dan ras karena kita Indonesia. Jangan pernah rasis terhadap jomblo ya.